Penipu Ulung
MIMPIPUN TAK MEMBUAT KU BAHAGIA
PENIPU ULUNG
Ketika wajah kemerah-merahan mulai tampak di ufuk barat senjapun menyapa dengan keramahannya petanda sang kegelapan akan segera berkuasa. Para penguasa udara mulai berbalik arah menuju asalnya ketika keluar untuk mencari pengganjal si kampung tengah. Mereka pulang membawa sedikit buah tangan untuk buah hatinya yang sedang menunggu termenung didalam balutan rerumputan kering sambil bersiulan merdu memanggil sang induk. Sang mentari pun perlahan membiarkan sang kegelapan untuk megambil alih kehidupan untuk sementara.
Semuanya sudah berkumpul dengan orang terkasihnya ia tetap merasakan kenyamanan duduk sendiri dengan mata terpejam dipuncak bukit yang menjulang tinggi seolah ingin mengantarkannya kelangit untuk memperlihatkan kisahnya yang dahulu sewaktu masih senang bersama para pembohong masa depannya. Hanya berselimutkan sahabat hitamnya yang selalu ada dipundaknya itu hingga beberapa lama di puncak bukit itu.
Tak lama berlalu dia tersendak dari topangannya dengan sebatang pohon beringin yang tumbuh lebat ketika sehelai daun merayap di atas wajahnya dengan perlahan bersama terpaan angin sepoi. Diapun segera beranjak dan meregangkan tubuhnya melanjutkan perjalanan yang ingin ditujunya. Perjalanan yang panjang cukup meletihkan hingga memaksanya harus berkali-kali mengghela beberapa napas panjang sambil menolehkan kepala kelangit berharap dikasihani sang khalik. Perlahan kakinya berganti melangkah membawa tubuhnya yang sudah mulai terasa berat dan susah untuk ditopang oleh kedua kakinya. Jaket hitam yang selalu bergantung setia diatas pundak kiri sambil dipegang oleh tangannya yang merasakan kesetiaan jaket hitam yang menemaninya berjalan disekeliling perjalanan hidupnya. Tidak terpisahkan juga dengan sebuah map biru disebelah kanannya berisikan bukti ilmu yang pernah didapatkannya beserta bukti diri lainnya. Map yang sangat ia banggakannya itu senantiasa dibawa kemanapun ia pergi dengan harapan bisa membantunya mendapatkan sesuap makan untuk membuatnya lebih lama hidup di persada nusantara.
Lontang-lanting batu yang di laluinya entah karena kekesalannya terhadap batu yang diluluinya atau karena menyesali perbuatannya yang telah ia lewati beberapa tahun yang lalu. Barulah ia menyadari empat tahun yang ia lalui bersama ribuan halaman ilmu yang tersusun rapi dirak bukanlah jaminan untuk memperoleh hidup yang indah di bumi sang khalik, dulunya “ aku lebih senang hidup bersama teman-teman ku sambil menunggu waktu malam tiba tanpa memikirkan isi memoriku yang mungkin masih kosong, apalah pentingnya belajar jika saatnya nanti sepucuk kertas ajaib yang akan aku dapatkan setelah empat tahun nantilah yang membuat aku sukses” pikiran salah itu selalui menghantui pikirannya, seandainya ia bisa menghapus sikapnya itu pasti sudah ia lupakan sejak dulu.
Kini gara-gara membanggakan sepucuk surat itu membuat otakku tak berisi, apalah arti angka-angka yang tinggi tertoreh di ijazahku jika kemampuan dan sikap ku tidak dapat mengimbanginya. Sekarang kertas itulah yang membuatnya menderita, dia yang dibawa kemana-mana tanpa mendapatkan hasil yang ia harapkan. Tanpa berkata apa-apa bibirnya sudah terlihat kering tanpa setetes air yang membasahinya hanya sehelai batang rumput yang selalu terjepit disela-sela bibir yang kering itu. lelah berjalan diapun duduk di sebuah kursi yang seolah tau bahwa lelaki itu dalam keadaan yang sangat letih, dia duduk diatas kursi sambil memeluk jaket lusuh yang setia menemaninya.
Tak beberapa selang waktu diapun terbangun dari tidurnya yang memeluk erat kakinya duduk diatas sebuah kursi di atas bukit menghadap sinar mentari yang memerah seolah juga ingin meninggalkannya sendirian, dia semakin bersedih melihat alam yang seolah tidak mau menerimanya didunia akibat kesombongannya waktu pendidikan dulu. “Ini waktunya malam untuk melihat penyesalanmu anak muda, pulanglah dan mintalah restu orang tuamu dirumah semoga kesombonganmu dulu bisa terampuni” seolah-olah alam mencaci hidupnya.
Creted by : me 9 juli 2015



0 komentar: